Kamis, 23 Februari 2017

Bahagia di Hari Tua Itu Ketika Bisa Tetap Berdikari dan Nggak Jadi Beban Anak

Foto: huffingtonpost.com



Siapa yang mampu menjaminkan kebahagian di hari tua kita? Pertanyaan di atas terus menerus terngiang dalam benak saya sejak dua bulan lalu, sejak saya melahirkan seorang anak yang otomatis membuat saya menjadi orangtua. Pertanyaan itu semakin gaduh di pikiran saya terlebih ketika melihat ibu saya yang semakin tampak tua dari hari ke hari tapi ia masih dengan sigap membantu saya mengurus bayi saya, cucu pertamanya. Meski terkadang menggendong cucunya yang semakin berat itu membuatnya sakit pinggang, ia senantiasa tersenyum, tak peduli berapa banyak rambutnya yang kian memutih dan kerutan yang timbul di berbagai tempat. Bahagiakah dia?


Bahagia di hari tua itu adalah ketika tidak menyesali semua keputusan yang telah diambil sewaktu muda, tidak takut nggak bisa makan di hari esok
Bahagia di hari tua itu ketika kita berterima kasih pada setiap jejak yang diukir masa muda kita, pada setiap jengkal pengalaman, pada setiap detik waktu yang menua bersama kita, pada setiap jerih payah serta kejatuhan dan kebangkitan yang telah lewat

Seperti apa bahagia di hari tua versi saya? Melihat anak saya tumbuh menjadi pribadi yang mengagumkan, mencapai kesuksesan versinya sendiri, dan senantiasa diberkahi kesehatan dan rezeki yang halal. Itulah hal-hal yang dapat membuat saya bahagia. Ketika tua, fisik mulai melapuk, tapi semangat tidak boleh meredup. Bahagianya saya adalah jika di saat raga sudah tak lagi seprima di waktu muda saya tidak menjadi beban bagi orang lain, terlebih anak saya sendiri.

Semoga kelak ketika tua nanti, saya tidak menuntut anak saya untuk menafkahi saya yang merenta. Saya melahirkannya karena ingin memberi kehidupan padanya, bukan berharap balas budinya di hari senja saya. Menua bukan berarti harus menyusahkan. Sebisa mungkin saya membuat anak saya bangga terhadap orangtuanya bukan membuatnya susah.

Setiap anak kelak akan punya kehidupannya sendiri, tanggung jawab, dan bebannya masing-masing. Mereka tidak pernah minta dilahirkan untuk menjadi penampung orangtuanya, mereka tidak berharap ada di dunia untuk menjadi pengurus kita. Kalau kita sebagai orangtua mendidiknya untuk menjadi orang dewasa yang mandiri, seharusnya orangtua yang paling depan menjadi contoh seperti apa menjadi mandiri. Seperti apa berdiri di kaki sendiri, tanpa menjadi beban orang lain.

Ayah saya meninggal saat saya berumur 11 tahun, kakak saya berumur 14 tahun dan adik saya berumur 3 tahun. Ibu saya tidak bekerja sejak menikah dengan ayah, dia menjadi ibu rumah tangga yang fokus mengurus anak. Setelah ayah meninggal, ibu pun kesulitan mendapatkan kerja karena usia yang tidak lagi muda dan sama sekali tidak punya pengalaman bekerja. Hidup kami pun berubah, untuk biaya hidup dan sekolah kami dibantu oleh saudara-saudara. Ibu mencoba berjualan tapi selalu gagal. Ketika sudah tua, ia pun mendapat kerja sebagai buruh di konveksi, bersama orang-orang yang pendidikannya sebenarnya jauh di bawah dia.

Berkaca dari pengalaman kami sekeluarga di masa lalu dan melihat ibu yang tidak bekerja, saya menanamkan di hati saya bahwa jika saya sudah berkeluarga, saya tidak ingin menjadi beban orang lain. Saya tidak ingin ijazah saya berdebu begitu saja,

Meski kini sekarang saya sedang tidak bekerja karena belum lama melahirkan dan memutuskan resign karena lokasi kerja yang jauh yang membuat saya kesulitan menempuhnya saat tengah hamil besar, suatu saat saya pasti kembali bekerja. Entah itu bekerja di kantoran lagi, atau fokus merintis usaha kecil. Saya tidak ingin menyia-nyiakan kemampuan saya dan tetap ingin berguna untuk sekitar.

Salah satu keuntungan yang ingin saya dapatkan dengan bekerja kembali nanti adalah melanjutkan kembali kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan yang pernah saya miliki. Dengan menjadi peserta program Jaminan Hari Tua dan Jaminan Pensiun, kelak masa tua saya tidak akan diliputi kecemasan-kecemasan yang tidak perlu.

Akan tetapi, jika keadaan saya belum memungkinkan lagi menjadi pekerja dalam waktu dekat, saya akan memfokuskan diri menekuni bisnis yang saya rintis bersama suami di bidang penyedia jasa desain grafis. Dengan begitu saya tetap bisa mendaftar program jaminan hari tua di BPJS Ketenagakerjaan sebagai pekerja Bukan Penerima Upah (BPU). Pekerja Bukan Penerima Upah (BPU) adalah pekerja yang melakukan kegiatan atau usaha ekonomi secara mandiri untuk memperoleh penghasilan dari kegiatan atau usahanya tersebut. Yang termasuk kategori ini tentunya orang-orang yang bekerja mandiri,  termasuk misalnya seperti tukang ojek dan supir angkot. Besaran iuran yang dikenakan sebesar 2% dari upah yang diterima untuk program Jaminan Hari Tua. Selain itu pekerja Bukan Penerima Upah (BPU) juga bisa ikut program Jaminan Kematian dengan membayar Rp 6.800,- dan program Jaminan Kecelakaan Kerja.


Pada akhirnya, saya ingin bekerja dengan sangat keras saat saya masih muda dan kuat. Kelak buah dari kerja keras pasti akan berujung manis. Saya ingin di masa tua saya, saya melakukan hal-hal yang menyenangkan. Hal-hal yang sempat terpinggirkan di masa muda karena persoalan prioritas. Saya ingin menghabiskan sisa-sisa waktu saya di dunia dengan semakin banyak membaca buku, terus menulis, memelihara blog, melukis dan menikmati pemandangan anak dan cucu yang tumbuh dengan sebagaimana mestinya. Memastikan saya dan dunia merawat mereka dengan baik dan benar. 

Kini, saya tak ingin menyia-nyiakan waktu yang saya punya untuk terbuang begitu saja. Saya tak ingin masa muda saya berlalu tanpa arti. Karena warisan yang paling bermakna bagi anak saya bukanlah harta yang melimpah, tapi kisah tentang daya juang dan bertahan hidup. Agar kelak ia tahu bahwa dibutuhkan lebih dari sekadar tangguh untuk hidup sebagai manusia. 

Minggu, 15 Januari 2017

Menikah Bukan Soal Ingin Doang, Tapi Siap Nggak?


Seorang teman bercerita tentang kedekatannya dengan orang baru. Setahu saya, teman saya itu masih punya pacar. Tapi, kata dia, dia sebenernya nggak yakin sama pacarnya itu, sementara dia udah ngebet pengin nikah. Berikut ini petikan curhatnya:

“Pril, gue udah pengin banget nikah.  Umur gue udah berapa, orang tua gue nanyain mulu. Pacar gue sih kayaknya mau nikahin gue, tapi gue ragu sama dia. Gue nggak yakin. Pengin sih jalin hubungan baru lagi, tapi pasti makin lama lagi gue nikahnya.”

Saya kadang nggak ngerti kenapa orang buru-buru pengin atau ngebet nikah. Saya dari dulu bukan tipikal yang menargetkan harus nikah di usia berapa. Saya lebih ke let it flow, kalau udah waktunya pasti ya akan kejadian juga. Dan ternyata bener, saya nikah di usia 27. Setahun sebelumnya saya baru putus dari pacar saya yang sudah jalin hubungan selama 4 tahun. Jadi, sama suami saya sekarang ini, bisa dibilang kami kenal dan dekatnya nggak terlalu lama. Toh, akhirnya nikah.


Nikah cuma karena sekadar "ingin"?

Nikah itu bukan sekadar karena ingin aja. Atau nikah karena ada yang mau nikahin aja. Kalau cuma karena suka sama suka, ya ampun itu mah terlalu bertaruh sama masa depan dan sisa hidup yang kita punya. Nikah itu soal siap atau nggak. Siap hidup sama-sama pasangan kita. Siap susah senang sama dia. Siap berjuang sama-sama di saat jatuh, dan siap untuk nggak ninggalin satu sama lain di saat berjaya. Siap untuk selalu bernegosiasi dan berkompromi sama ego dia, kebiasaan dia, cara hidup dia, dan mimpi-mimpi dia. Siap juga untuk menyelaraskan diri sama dia. Siap untuk selalu mendukung, siap untuk selalu bekerja sama menghidupkan cinta, membesarkan anak (kalau ingin punya anak), bekerja sama untuk membuat kehidupan rumah tangga semakin membaik dari segi apapun. Dan yang paling penting siap untuk terus dan selalu saling mencintai.

Saya nggak ingin menggurui karena untuk segala “siap” yang saya sebutkan tersebut, saya pun masih dalam taraf amatir. Tapi karena merasa amatir saya selalu belajar untuk selalu mampu mempersiapkan diri saya. Saya mau menikah, karena saya pikir dan saya bertekad, bahwa saya mampu menjalankan semua “siap” itu.

Saya juga nggak bilang kalau ragu ya udahin aja hubungannya. Justru ragu sebelum menikah itu perlu. Ragu membuat kita jadi berpikir matang-matang, nggak gegabah dan bisa mempertimbangkan dengan lebih jernih. Ragu bikin kita jadi nggak ceroboh, atau asal memutuskan sesuatu hanya berdasarkan perasaan yang sesaat atau nggak menentu.

 
Mendapatkan pasangan yang tepat

Menikahlah karena memang ingin menghabiskan sisa hidup dengan pasangan. Saya sendiri dengan suami nggak merasa memilih atau dipilih, saya merasa Tuhan yang memilihkan dia untuk saya dan saya dipilihkan untuk dia. Karena, dari berbagai aspek kita punya banyak sekali perbedaan. Setiap saya berdoa soal pasangan hidup sebelum menikah kepada Tuhan, saya memang tidak meminta yang macam-macam. Hanya minta yang sesuai, yang pas, dan doa itu terkabul. Saya pernah punya pasangan yang saya puja, saya juga pernah punya pasangan yang “ngemong”. Nyatanya saya nggak butuh hidup sama orang yang saya gila-gilai atau yang “merawat” saya seperti anak kecil. Saya butuh pasangan yang bisa mengimbangi saya. Saya butuh partner, dalam banyak hal di hidup ini. Bersama-sama mendukung mimpi satu sama lain tanpa harus ada yang merasa superior ataupun inferior. Untuk apa punya pasangan yang memenuhi sederet kriteria dan punya segudang keunggulan kalau nyatanya nggak sesuai sama kita.

Cocok nggak ya saya sama dia?

Perihal cocok atau nggak cocok memang nggak bisa dipatok begitu saja di awal. Cocok nggak cocok itu cuma soal mau saling menyesuaikan atau nggak. Cocok atau nggak itu cuma sejauh mana kita mau mengenal dia dan sejauh apa toleransi kita sama kekurangan-kekurangan dia. Makanya sering banget kan, ada yang putus alesannya karena nggak cocok. Ya, karena manusia nggak statis. Hari ini bisa aja kita masih sanggup toleransi sama kebiasaan buruk dia, beberapa bulan kemudian, ternyata kita udah bener-bener nggak bisa terima. Jadi, nemuin orang yang cocok-cocok banget mah sebenarnya nggak akan ada. 

Pasangan yang tepat itu bukan dicari atau ditemukan, tapi dibentuk, dilatih dan dibiasakan. Sama halnya ke diri kita sendiri, kitanya juga harus membentuk, melatih dan membiasakan diri jadi orang yang pantas dan tepat buat pasangan kita. Kesannya gampang banget ya ngomong dan terlalu ideal kata-kata saya ini, tapi saya percaya kok kondisi ideal itu nggak tumbuh dengan sendirinya, tapi diciptakan. Jadi sah-sah aja punya bayangan ideal kaya apa, asal tau gimana ngimbanginnya sama realitas.

Kamis, 24 November 2016

Sukses Menjalani Banyak Profesi dan Hobi, Kenapa Tidak?



Selama 5 tahun, saya berprofesi sebagai wartawan. Selama itu juga hidup saya amat sangat bergantung dengan laptop, karena saya tidak harus berada di kantor, yang penting, nulis dan kirim tulisan. Sebagai wartawan, laptop itu sudah ibarat seperti nyawa bagi saya. Begitu pula saat saya menulis dan menerbitkan buku non fiksi pada tahun 2015, laptop adalah kebutuhan yang sangat krusial, karena saya harus menyalin transkrip wawancara para tokoh ke dalam buku dan mengeditnya sesuai revisi editor yang harus diselesaikan dalam tenggat yang telah ditentukan. Jadi laptop adalah hal yang membantu saya menghasilkan penghidupan, baik yang berupa mata pencaharian utama, maupun yang berasal dari passion.
Sewaktu masih menjadi wartawan

Wawancara dengan Choky Sitohang untuk bahan buku
Wawancara dengan Nico Siahaan untuk bahan buku

Pemilik Bisnis Layanan Jasa Desain Grafis

Gencar mempromosikan bisnis yang dijalankan bersama suami

Setelah memutuskan resign dari profesi wartawan beberapa bulan lalu karena hamil dan pindah tempat tinggal, saya pun menjalankan profesi lain, yakni sebagai pebisnis pemula yang membuka usaha layanan jasa desain grafis. Sebenarnya bisnis ini sudah mulai dijalankan saat saya masih bekerja sebagai wartawan. Bisnis kecil ini dijalankan berdua oleh saya dan pacar saya saat itu yang sekarang sudah jadi suami.

Suami saya cukup jago mendesain karena memang sudah sering dia lakukan sejak masih kuliah. Meski ia bekerja sebagai karyawan di salah satu perusahaan pengembang properti di Tangerang, dia tetap menerima pesanan desain. Awalnya ini hanya pekerjaan sampingan dia saja. Tapi, semenjak saya melihat adanya peluang bahwa ini bisa menjadi bisnis yang menjanjikan, saya pun memutuskan untuk terlibat dan berdua bersama suami kami mendirikan bisnis ini.

Saya tidak bisa mendesain, tapi saya lumayan jago ngomong dan nulis (karena cukup lama pernah jadi wartawan), jadi tugas saya di bisnis kami ini lebih ke promosi, pemasaran, pembukuan, keuangan, dan lain-lainnya, yang intinya di luar mendesain. Karena yang sepenuhnya mengerjakan pesanan desain adalah suami saya. Sesekali saya memberikan masukan tentang warna, jenis huruf dan lain sebagainya.

Manajer Band

Saat jadi manajer band

Menjadi pebisnis pemula bisa dibilang sebagai profesi utama saya. Sisanya saya punya profesi lain yang juga dengan senang hati saya jalani. Karena bagi saya hidup saya ini bukan sekadar multitasking tapi juga multi-career. Hal itu bisa dilihat dari biodata singkat yang saya tulis di media sosial, contohnya di Twitter. Saya tidak bisa mengerucutkan minat dan pekerjaan saya ke dalam satu profesi saja dan menegasikan begitu saja kemampuan saya di bidang lainnya. Saya punya banyak sisi dari segi aktivitas dan minat.
Profil singkat di Twitter

Sebagai manajer sebuah band yang tergolong masih merintis, saya tidak hanya bertugas mencarikan acara untuk band tersebut, tapi juga mengurus segala perintilannya, mulai dari “ngendadanin” personil sebelum manggung, memastikan mereka latihan dengan baik, sampai mengurus desain cover album mereka (ini berhubungan sama bisnis saya juga) dan yang tidak kalah penting mengaktifkan social media yang dipunya band tersebut.
Tugas saya sebagai manajer band sekaligus tukang potret

Jadi, sebelum mereka akan konser, saya harus mengunggah poster-poster untuk mempromosikan konser tersebut. Tidak hanya sekadar informasi biasa, tapi juga sampai aktivitas lainnya, misalnya menjelang konser, saya juga mengunggah foto penampilan mereka saat check sound. Bagi beberapa orang mungkin lebih mudah melakukannya dengan smartphone. Akan tetapi, saya memotret mereka memakai kamera digital (kamera pocket) yang hasilnya jauh lebih bagus daripada kamera handphone. Karena pakai kamera pocket, jadi, untuk bisa mengunggah ke media sosial, saya harus mentransfer file-nya terlebih dulu ke laptop, otomatis saya tidak bisa lepas dari laptop ketika mendampingi mereka manggung.

Penulis dan Blogger yang Hobi Melukis

Saat bertugas jadi penulis siaran pers sebuah acara
Sejak jadi wartawan saya beberapa kali diberi kesempatan menjadi penulis press release berbagai acara dari teman saya yang sering mendapat project sebagai media relations di acara tersebut.  Semenjak resign, karena waktu saya yang lebih fleksibel, tawaran itu pun semakin banyak berdatangan. Sebagai penulis siaran pers, tentu lagi-lagi pekerjaan ini membuat saya bergantung dengan laptop.
Berfoto bersama seluruh narasumber dan pemimpin redaksi penerbit buku yang saya tulis

Selain itu, saya juga mulai aktif meluangkan waktu untuk menghidupkan kembali blog saya. Tawaran job review pun mulai berdatangan. Saya juga aktif mengikuti lomba-lomba blog dan mencari informasinya lewat internet. Di samping itu, karena tahun 2015 saya sudah pernah menulis buku, saya berencana untuk kembali menulis buku, kali ini novel. Jadi harus sering-sering di depan laptop.

Peluncuran buku pertama, sekali-kalinya pakai dress rancangan desainer Didiet Maulana

Penulis bisa dibilang sebagai profesi sekaligus hobi. Iya, karena menulis saya mendapat penghasilan, menulis juga hobi saya, sama halnya dengan ngeblog dan melukis. Lukisan saya pernah dijadikan cover album bahkan dicetak menjadi kaos dari band dimana saya menjadi manajernya.
Dari lukisan menjadi cover cd album dan dicetak lagi menjadi kaos


Acer Switch Alpha 12, Partner Tepat yang Mendukung “Swithcable Me”
Acer Switch Alpha 12. (Foto: http://www.acerid.com/)

Sebagai orang yang hobi dan kerjaannya bergantung sama laptop, jadi saya pun harus jadi orang yang “switchable”. Untuk memudahkan itu semua saya butuh partner yang tepat, yakni notebook Acer Switch Alpha 12Switch dari pebisnis, manajer band, penulis dan blogger yang gemar melukis, jadi semakin mudah dengan adanya Acer Switch Alpha 12. Notebook ini cocok untuk orang seperti saya yang multi-career dan flexible person. Kenapa notebook ini cocok banget untuk orang yang punya banyak profesi dan hobi seperti saya? Ini alasannya:


Nggak Pakai Kipas, dan Nggak Panas Dipakai Lama-Lama Serta Hemat Baterai
Nggak pakai kipas, nggak panas juga, jadi dipangku juga aman. (Foto: Facebook Acer Indonesia)


Yang paling saya butuhkan dari notebook ini adalah kemampuannya untuk selalu sejuk dan nggak panas. Berhubung saya sudah punya pengalaman buruk dengan laptop yang cepat sekali panas dan berujung rusak. Notebook Acer Switch Alpha 12 ini didukung teknologi LiquidLoop™, yaitu sistem pendingin yang dapat menstabilkan suhu mesin notebook tanpa kipas atau fanless. Sistem fanless ini juga membantu menghemat daya baterai, jadi nggak perlu khawatir ketika lagi dipakai dan nggak ada colokan di dekat kita.

Karena nggak panas, otomatis notebook ini nggak akan overheating. Notebook yang overheating bisa menurunkan performa kerja mesin laptop yang bisa berujung pada kerusakan. Karena tanpa kipas juga notebook ini jadinya nggak berisik dan nggak perlu ventilasi. Ventilasi yang ada di laptop itu bisa buat debu masuk dari luar dan menempel di mesin laptop. Debu-debu yang nempel di mesin inilah yang bisa bikin laptop cepat rusak. Karena bebas debu, notebook ini dijamin jadi nggak cepat rusak dan tahan lama.

Terus kita pasti jadi mikir deh, kalau nggak pakai kipas, ngusir panasnya gimana? Teknologi Acer LiquidLoop™ ini mengandalkan pipa berisikan cairan  pendingin untuk menstabilkan suhu prosesor Intel Core i Series di dalamnya secara optimal.
Namanya juga penulis, saya biasanya bisa berlama-lama menyalakan laptop sambil mencari inspirasi. Terbayang kan, kalau baru sebentar dinyalakan laptopnya sudah panas dan berisik, itu  amat sangat mengganggu mood.

Notebook Sekaligus Tablet
Bisa jadi tablet juga, keren, ya! (Foto: Facebook Acer Indonesia)

Acer Switch Alpha 12 ini juga merupakan notebook hybrid yang 2 in 1, bisa jadi notebook, bisa juga jadi tablet. Untuk jadi tablet tinggal copot layar monitornya aja. Praktis banget, kan? Tinggal lepas keyboard docking yang telah dilengkapi engsel magnet. Engsel magnetnya ini membuat kita bisa dengan mudah, cepat dan aman melepas keyboard. Desain Switch Alpha 12 ini juga tipis dan ringan, jadi semakin fleksibel dibawa kemana-mana.

Nggak Bikin Mata Lelah Meski Lama-Lama di Depan Laptop
Desainnya ringan dan ramping (Foto: http://www.acerid.com/)

Sebagai penulis, nyari ide aja bisa bengong lama dulu di depan laptop. Belum lagi kalau nulisnya tulisan panjang dan di tempat yang agak redup pasti bikin mata capek. Terlebih saya pakai kacamata, rasanya mata jadi semakin cepat kering dan terasa “berat” kalau pakai laptop yang bikin mata lelah. Nah, keyboard docking AcerSwitch Alpha 12 ini berfungsi juga sebagai screen protection, ada lampu backlit yang bisa bantu kita tetap nyaman mengetik meski di ruangan redup. Teknologi BlueLight Shield-nya membantu mengurangi emisi cahaya biru pada layar. Ini yang membuat mata kita tetap akan nyaman meski berlama-lama di depan laptop.

Coret-Coret di Layar
Langsung bisa  menuangkan inspirasi di layar, kapanpun dimanapun pakai Acer Active Pen (Foto: Facebook Acer Indonesia)

Pakai Acer Switch Alpha 12 juga bisa bikin kita semakin kreatif karena layarnya yang bisa dicorat-coret. Ini cocok banget nih untuk saya kalau mau buat outline buku dan mind mapping cerita novel, gambar-gambar untuk lukisan baru atau buat business plan yang sederhana. Pena digital atau active pen-nya punya sensitivitas tinggi hingga 256 tingkat tekanan, jadi rasanya seperti coret-coret di kertas. Stylusnya benar-benar bikin kreativitas jadi nggak terbatas.

Nah, keren dan kece banget kan Acer Switch Alpha 12 ini? Apapun profesi dan hobimu, kunci untuk bisa sukses menjalaninya secara selaras dan harmonis adalah dengan punya partner yang tepat. Jawabannya tentu Acer Switch Alpha 12 inilah  partner yang tepat yang sangat membantu kamu fleksibel dan switchable dari profesi ke hobi, maupun dari hobi ke profesi, kapanpun, dan dimanapun! 


Tabel Spesifikasi Switch Alpha (SA5-271)

Processor
●     Intel® Core™ i5-6200U processor (3 MB L3 cache, up to 2.8 GHz)
●     Intel® Core™  i7-6500U processor (4 MB L3 cache, up to 3.1 GHz)
OSWindows 10 Home 64-bit
Storage
●     256GB SSD
●     512GB SSD
Memory
●     4GB DDR3
●     8GB DDR3
GraphicIntel® HD Graphics 520
Connection
●     Wifi 802.11a/b/g/n/ac
●     Bluetooth® 4.0
Battery Capacity4,870 mAh / up to 8 hours
Display12″ IPS QHD (2160 x 1440) Multi Touch
Dimension292.1 (W) x 201.4 (D) x 15.85 (H) mm – pad and dock
Weight1.25 kg
Camera5 MP Camera
Port
●     1x USB 3.0
●     1x USB 3.1 Type C
●     1x Micro SD card slot
Color OptionsSilver



Kamis, 10 November 2016

Solusi Mencari Teman Sekamar untuk Anak Kos


Dulu, sekitar tahun 2007, waktu diterima di Universitas Indonesia jurusan Filsafat, saya harus ngekost di Depok karena rumah saya cukup jauh yaitu di Tangerang. Saya ngekost berdua sama teman SMA saya yang diterima di jurusan Ilmu Politik. Saat itu kami memilih untuk sekamar berdua, karena kami sama-sama anak baru, yang belum punya teman, dan sekalian juga untuk menghemat biaya kamar.

Saya lupa berapa lama saya sekamar sama dia, sampai suatu saat dia bilang dia mau ngekost sendiri, dan dia mau pindah, mungkin dia pengin kamar sendiri, biar lebih punya privasi. Saya cukup agak kelimpungan mencari teman sekamar lagi. Karena kebanyakan teman sejurusan saya kuliahnya pulang-pergi, jadi nggak butuh ngekost. Saya juga nggak kepikir pindah, dan cari kamar sendiri, saya lebih nyaman ada teman sekamar karena rasanya jadi nggak takut. Saya ini suka takut rasanya kalau tidur nggak di kamar rumah saya sendiri. Jadi kalau ada temennya lebih enak, ada temen ngobrol, kalau mati lampu juga nggak gelap-gelapan sendirian, hehe.

Kalaupun ada yang mau ngekost, rata-rata jarang yang mau berbagi kamar, karena ya itu tadi, cewek tuh biasanya lebih butuh privasi, beda sama cowok yang bisa tidur rame-rame di satu kontrakan. Akhirnya dapet juga roommate pengganti, dia adiknya teman jurusan saya. Tapi itu juga nggak lama, karena abis itu dia lebih milih pulang-pergi juga dari rumahnya. Terus dapet lagi, temennya teman saya di beda jurusan, tapi itu juga nggak lama, karena dia sering ngerjain tugas sampai begadang dan katanya nggak enak kalau ganggu saya. Sampai akhirnya dapet roommate yang memang kita temenan deket, tapi sayangnya, dia tiba-tiba cuti kuliah dan saya kembali ditinggal sendiri lagi.

Sekarang ternyata lebih gampang untuk bisa nemuin roommate, nggak perlu kaya saya yang mondar-mandir ke sana kemari nyari orang yang mau tinggal bareng sama saya, karena sekarang ada situs Serumah.com. Serumah.com ini memudahkan kita untuk cari teman sekamar atau roommate yang mau berbagi ruangan, atau roomsharing sama kita. Nggak cuma untuk kosan aja, bisa untuk rumah, atau apartemen, lumayan kan, bisa meringankan beban biaya sewa kalau bisa patungan, hehe.

Kita juga bisa lihat data calon roommate kita, mulai dari jenis kelamin (yaiyalah ini mah udah pasti), foto, umur, terus data sikap dia seperti apa, apakah dia merokok atau nggak, punya hewan peliharaan kah, tingkat kerapihannya gimana, sampe nomor kontaknya, ya siapa tahu mau tanya-tanya lebih lanjut kan ya, kira-kira cocok nggak jadi teman sekamar kita.

Ah, coba nih website udah ada pas jaman saya kuliah dulu, :p

Ohya, selain untuk cari roommate, Serumah.com juga cocok untuk kamu yang lagi cari kamar sewa, dari yang harganya terjangkau sampai kamar studio apartemen mewah, tinggal pilih deh sesuai selera. Di Serumah.com juga bisa ngiklanin kamar yang mau kamu sewain, gratis pula, asyik kan.

Foto: dok. serumah.com



Sabtu, 05 November 2016

Main, Belanja, Nonton Konser, Kulineran dan Hal-Hal Seru Lainnya di Pekan Raya Indonesia 2016



Ngapain saya di Pekan Raya Indonesia? Nulisin press release acara buat disebar ke media-media. Jadi kerjaannya hampir saban hari menyambangi ICE BSD dan ngiterin stan-stan yang pameran, otomatis sedikit-banyak tahu banget apa aja yang ada di sini. Tulisan ini nggak ada hubungannya sama kerjaan saya sih, hehehe, tapi berhubung sering banget ke sana, saya jadi punya pandangan sendiri tentang hal-hal menarik apa aja  yang ada di sana. Mumpung hari terakhir, nih, siapa tahu ada yang tertarik. Berikut 7 hal menyenangkan di PRI versi saya.

Ada Hape 4G LTE di Bawah 1 Juta


Sebenernya mah di sana saya kerja, tapi nggak bisa deh kerja di acara kaya gitu kalau nggak ikutan jajan dan belanja. Di saat bersamaan, hape android saya Acer rusak, dan kalau dibenerin bisa seharga 400 ribu. Ogah dong ya harga segitu cuma buat reparasi alhasil saya jual aja di OLX. Jadilah hape saya tinggal Blackberry yang udah saya pake dari tahun 2012, eh tapi udah nggak bisa buat Whatsapp an dong, hiks. Terus liat-liat di PRI ada stan smartfren, lagi promo kalo beli kuota 65 GB gratis hape Andromax A. intinya beli hape seharga 650 ribu udah dapet kuota 65 GB, gokil, kan? Nggak pake pikir panjang langsung beli, karena biar gimana saya butuh banget bisa whatsapp-an lagi, karena berhubungannya sama kerjaan, jadi penting banget. Kuota sebanyak itu di rumah sering saya tethering-in aja ke laptop sama ke hape suami juga, ya soalnya 50 GB nya harus habis selama sebulan, 15 GB nya diakumulasi ke bulan depan. Sayang kan kalo dipakenya nggak dihambur-hamburin tuh kuota. Hehe.

Jemuran Handuk Cuma 150 Ribu


Di hall perabot tiba-tiba nemu stan brand baru namanya Mami1 yang jual rak sepatu dan jemuran. Harganya? Lebih murah dari di supermarket. Terutama untuk jemuran handuk. Pernah ke Gi*nt, jemurannya 300 ribu, boooo. Di sini cuma 150 ribu dan lebih bagus, ternyata emang produknya belum dijual dimana-mana, baru di PRI ini dan harganya masih harga pabrik jadinya.

Seprai 100 Ribu dan Bantal+Guling 100 Ribu


Dasar otaknya emak-emak banget, emang demennya lama-lama di tempat perabot. Di PRI baru ngeh sama brand Yume karena diskonnya mayaaan banget. Padahal mah ternyata ni brand ada di banyak mall juga, bahkan di Tangcity juga ada. Tapi harganya ini ciamik banget, karena diskon 70 %. Kapan lagi dapet bantal sekaligus guling cuma seharga 99.900! biasanya harga segitu ya Cuma dapet bantal atau gulingnya aja.

Ada Kue Balok dan Jajanan Jaman Baheula


Pas lagi di hall makanan nusantara, tiba-tiba nemu kue balok. Nggak gitu paham si kue balok itu apaan, eh ternyata enak juga. Yang paling asyik mah ada jajanan jaman baheula, saya jajan permen gulali bentuk, yang dulu biasanya ada di SD. Nostalgia banget deh rasanya.

Ada Tari, Workshop, dan Musik Nusantara

Nggak cuma band-band yang biasa didengerin orang-orang yang ada di PRI, tapi juga kelompok-kelompok penggiat budaya. Di PRI bisa liat reog ponorogo, tari saman, dan tari-tari tradisi lainnya. Ada workshop seru juga, dari mulai membatik, buat boneka dari kertas, bikin alat musik dari keramik, sampe rubber cut (cukil di atas karet terus disablon ke pouch). Di sini juga saya jadi bisa liat Kunokini tampil mainin musik yang keren!


Band nya Lintas Genre Lintas Generasi

Yang menarik di PRI ini juga pengunjung-pengunjungnya. Waktu Slank tampil kebetulan saya ngeliat. Massanya gilaaaa rameeee banget banget!!! Itu slankers bener-bener Menuhin ICE, ampun, ini band yang paling banyak nyedot penonton, luar biasa dah. Tapi ada band-band yang bikin orang generasi saya berasa nostalgia dan tua, kaya Element, Dewa 19, Samsons, Tipe-X, TIC Band dan The Rain. Ada juga musisi yang lagi ngehits dan digemari anak-anak muda kekinian, macam Yura, RAN, Isyana, Raisa, Barasuara. Karena PRI saya langsung jatuh cinta sama penampilan live-nya Barasuara, lebih kece daripada dengerin di radio. Udah gitu ya di sini semua genre ada, dari pop, rock, reggae, metal sampe dangdut (ada Ayu Ting Ting euy). Selain itu di sini ada banyak panggung, jadi band-band indie, band baru punya tempat buat eksis juga di sini, salut!

Tempatnya di ICE BSD City

Awalnya waktu Mbak Ima dari Image Dynamic nawarin kerjaan ini sempet ragu. Ragu karena lagi hamil gede boooo. Berat badan udah naik 15 kg dari 45  ke 60, nafas udah makin sering engap, sempet mikir kuat nggak, ya, apalagi nih acara lumayan lama, 18 hari? Tapi pas dipikir-pikir lagi, toh ke sananya juga bisa pas suami pulang kerja, jadi aman pulang-pergi dan selama di sana didampingi suami, dan kalo udah dapet banyak bahan juga nggak perlu tiap hari banget ke sana. Tempatnya juga di ICE, nggak jauh dari rumah, indoor, dingiiinn (bumil nggak suka kalo panas-panasan), jadi biar banyak orang juga nyaman-nyaman aja di sana, nggak takut kepanasan atau keujanan, toiletnya banyak dan bersih, jadi berhubung saya bumil yang suka kebelet pipis, hal seperti ini memudahkan banget. Kalau capek, bisa istirahat dimana aja. Dan ternyata setelah dijalanin, Alhamdulillah kuat-kuat aja, debay di perut tampaknya emang seneng jalan-jalan di ICE.

Segitu aja dulu deh ya, intinya PRI lengkap banget, mau belanja murah bisa karena banyak diskonan, mau kulineran banyak, mau nonton band tinggal pilih, mau liat kesenian nusantara juga ada. Mau nyenengin anak banyak permainan seru, dari main salju sampai naik kuda. Yang ngakunya berani bisa coba masuk ke rumah hantu Conjuring House, dan siap-siap ketemu Valak. Yang agak saya sayangkan nggak ada stan yang jual perlengkapan bayi dan ibu hamil. Padahal kalo ada, dijamin deh bakal laku banget, karena sepengamatan saya banyak pengunjung yang hamil dan yang bawa bayi yang dateng ke sana. 

Bisa main engklek, egrang, bekel, gasing, congklak, dan permainan tradisional lainnya di PRI. Mainan-mainan ini disediakan sama Kampoeng Hompimpa

Anak-anak bisa naik kuda dan kasih makan hewan di stan Sheriff Ranch
Main salju di Snow Station
Stan yang nggak pernah sepi, Omah Fesyen
Frame aneka bentuk yang dijual mulai dari harga 10 ribu
Magnet kulkas lucu-lucu cuma 10 - 15 ribuan :)